PKn SEBAGAI SARANA NILAI

PKn SEBAGAI SARANA NILAI

 

       I.            REFERENSI

Ine Kusuma Aryanti, dan Markum Susatim, 2010, Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis Nilai.

Deni Setiawan, Jurnal Paradigma Pendidikan Kewarganegaraan Demokratis di Era Global

Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai, editor Dudung Rahmat Hidayat.

    II.            RESUME

Pendidikan nilai adalah langkah yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk membangun kehidupan bangsa agar setiap individu menjadi cerdas, berakhlak mulia, dan mandiri dalam segala dimensi kehidupannya. Pendidikan nilai pada hakikatnya menuntun setiap individu dalam berbagai kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual untuk membangun kepribadian yang harmonis. Singkatnya tanpa mengurangi peranan dimensi kehidupan lain, pendidikan nilai adalah wadah yang menciptakan seseorang untuk membangun nilai-nilai positif bagi diri dan sesamanya menuju manusia yang utuh (Insan kamil). Terlebih dalam membantu peserta didik untuk mempersiapkan kebutuhan ersensialnya  dalam menghadapi perubahan (Ine Kusuma Aryanti, dan Markum Susatim:2010: 24).

Tujuan dari pendidikan nilai adalah penanaman nilai-nilai tertentu dalam diri sisiwa. Pengajarannya bertitik tolak dari nilai-nilai sosial tertentu, yakni nilai-nilai pancasila dan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia lainnya, yang tumbuh dan berkembang dalam masyrakat Indonesia (Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai : 75). Didalam filosofi pancasila terkandung nilai-nilai yang mendasari pendidikan, bahkan semua kegiatan kehidupan masyarakat Indonesia dimana dinamika system nilai terkandung didalamnya sebagai landasan dan pandangan hidup bansa Indonesia. Nilai-nilai tersebut adalah (Ine Kusuma Aryanti, dan Markum Susatim:2010:37)

  1. Ketuhanan yang maha esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Konsep Pendidikan kewarganegaraan dalam pengetahuan sosial merupakan suatu kesatuan dan keterkaitan satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain yaitu, geografi, sejarah, dan ekonomi, sehingga diupayakan dapat menjawab masalah sosial yang sangat kompleks dan berkesinambungan (integrasi dengan bidang lain), yang pada intinya masih dalam rangka pembentukan karakter warga Negara Indonesia dan warga dunia yang baik. Kajian materi PKn merupakan petunjuk pemahaman internalisasi atau persoalan nilai, serta bagaimana praktis kehidupan menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang sehat, baik melalui proses kematangan mental spiritual yang utuh dan mantap, juga matang yang akan berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmoni.

John J. Patrick menuliskan kecenderungan perkembangan pendidikan kewarganegaraan secara global saat ini sebagai suatu figur kajian yang menampilkan dirinya sebagai pendidikan kewarganegaraan yang memiliki keterkaitan secara fungsional anatar pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan dalam kehidupan  bermasyasrakat  dalam masyrakat (civic skill) dan berkembangnya nilai-nilai kebajikan dalam masyrakat (civic virtue). Pengetahuan kewarganegaraan yang dimaksud menyangkut prinsip-prinsip dan teori demokrasi, jalannya pemerintahan yang demokratis dan perilaku demokratis masyasrakat serta perbandingan nilai demokrasi antara Negara. Pemahaman ini kemudian akan mengarahkan peserta didik sebagai warga Negara untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan warga Negara, yang kemudian didukung oleh nilai kebajikan dalam masyrakat seperti saling menghargai, kepribadian, disiplin diri, toleransi, patriotisme dan tanggung jawab (Deni Setiawan, Jurnal Paradigma Pendidikan Kewarganegaraan Demokratis di Era Global).

 III.            REFLEKSI

Pendidikan kewarganegaraan adalah sebuah mata pelajaran yang mengajarkan tentang nilai-nilai dan karakter dalam berbangsa dan bernegara dan mengajarkan bagaiman cara menjadi seorang warga Negara Indonesia yang baik. Pelajaran PKn ini sudah ada sejak dulu dan mulai diajarkan dari bangku SD hingga perguruan tinggi. Tetapi pada kenyataannya sikap dan karakter yang selalu diajarkan dalam mata pelajaran PKn tidak terwujud atau terealisasi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, masih banyak peserta didik yang tidak berkarakter, masih banyak perserta didik yang terjerumus dalam pergaulan bebas dan semakin banyak siswa yang sudah tidak menghormati gurunya. Mereka anggap guru mereka sebuah permainan, bahkan ada siswa yang mengancam atau memukul dan menghina gurunya. Sikap seperti ini merupakan sebuah krisis moral yang sudah tidak mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan dalam PKn. Apakah yang salah dalam hal ini mata pelajaran PKn itu sendiri atau Pedidik yang tidak bisa mengajarkan arti nilai yang terkandung dalam mata pelajaran PKn ?

Tentunya sebagai warga Negara Indonesia, pasti sedih melihat hal demikian. Ini merupakan sebuah tantangan kepada kita semua bagaimana PKn sebabagai sarana berbasis nilai dapat terwujud, dan dapat memberikan dan menanamkan nilai tersebut kepada peserta didik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s