Teori Struktur Fungsional

              Struktural fungsional adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Menurut Soyomukti (2010:70) pandangan ini sangat berakar kuat dalam sosiologi, mencirikan diri pada kepercayaan tradisi keteraturan (menekankan pentingnya cara-cara memelihara thketeraturan sosial). Aliran ini memberikan perhatian pada kemapanan, ketertiban sosial, kesepakatan, keterpaduan sosial, kesetiakawanan sosial, serta pemuasan kebutuhan dan realitas (empiris).

          Teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau hilang dengan sendirinya (Ritzer: 1992:25).

        Hal senada juga dijelaskan oleh Soyomukti (2010:71) dimana suatu masyarakat dilihat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara terorganisir dan bekerja dalam suatu cara yang agak teratur menurut seperangkat peraturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat tersebut. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang. Tokoh dalam aliran ini antara lain Parson (1937), Davis (1937), dan Merton (1957).

Parsons adalah seorang sosiolog kontemporer dari Amerika yang menggunakan pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang menyangkut fungsi dan prosesnya. Parson melihat realitas sebagai suatu sistem sosial dimana bagian-bagiannya berkaitan dengan keseluruhan dan dijelaskan berdasarkan fungsi sistem bagi keseluruhan. “Teori besar” yang disusun oleh Parsons di dalam (Robinson, 1986:30) memulai dengan suatu penjelasan mengenai perilaku individu; ia berpendapat bahwa semua tindakan harus terarah kepada tujuan (Goal-orientied) dan bahwa dalam mengejar tujuan-tujuan itu, kita memperhitungkan tujuan-tujuan orang lain.

Parson di dalam (Ritzer & Goodman, 2003:121) dengan sistim AGIL memandang sistim dalam masyarakat sebagai satu kesatuan, dan semua sistim harus berfungsi sesuai dengan fungsinya agar sistim sosial dapat berlangsung sesuai dengan tujuannya. Agar tetap bertahan (survive), menurut Parson suatu sistim harus memiliki empat fungsi yakni:

  1. Adaptation (adaptasi): sebuah sistim harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistim harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya.
  2. Goal attainment (pencapaian tujuan): sebuah sistim harus mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya.
  3. Integration (integrasi): sebuah sistim harus mengatur antarhubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. Sistim juga harus mengelola antarhubungan ketiga fungsi penting lainnya (A, G, L)
  4. Latency (latensi atau pemeliharaan pola): sebuah sistim harus memperlengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi

         Untuk menganalisis keempat prasyarat-prasyarat yang diberikan oleh Parson, Robinson (1986:30) menjelaskan bahwa:

“Adaptasi merupakan cara bagaimana sistem sosial itu mengelola pengalokasian sumber-sumber dayanya, apakah itu berupa manusia, benda-benda atau simbol-simbol; integrasi merupakan cara mempertahankan komitmen anggota-anggota sistem sosial kepada anggota-anggota sistem sosial kepada keseluruhan; pencapaian tujuan (goal-atteinment) yaitu mencapai konsensus atas tujuan-tujuan yang hendak dikejar; dan akhirnya pemeliharaan pola (pattern maintenance), atau perbaikan setiap kerusakan pada bagian-bagian sistem yang terjadi dalam operasi keseluruhan.”

Dalam proses lebih lanjut, teori ini pun berkembang sesuai perkembangan pemikiran dari para penganutnya seperti Merton yang mengkritik tiga postulat dasar analisis struktural yang dikembangkan oleh antropolog Malinowski dan Radcliffe Bron. Merton berpendapat bahwa ketiga postulat fungsional itu bersatandar pada pernyataan nonempiris dan berdasarkan teoritis abstrak. Merton dalam (Ritzer & Goodman, 2003:121) mengkritik bahwa:

  1. Postulat pertama tentang kesatuan fungsional masyarakat. Postulat ini berpendirian bahwa semua keyakinan dan pratik kultural dan sosial yang sudah baku adalah fungsional untuk masyarakat sebagai suatu kesatuan maupun untuk individu dan masyarakat. Padangan ini secara tersirat menyatakan bahwa berbagai bagian sistem sosial pasti menunjukkan integrasi tingkat tinggi. Tetapi merton berpendapat bahwa, meski hal ini mungkin benar bagi masyarakat primitif yang kecil, namun generalisasi tak dapat diperluas ketingkat masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Merton di dalam (Soetomo, 1992:15) juga memberikan koreksi bahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari suatu masyarakat adalah bertentangan dengan fakta. Hal ini disebabkan karena dalam kenyataannya dapat terjadi sesuatu yang fungsional bagi suatu kelompok, dapat bersifat disfungsional bagi kelompok lain.
  2. Postulat kedua adalah fungsionalisme universal. Artinya, dinyatakan bahwa seluruh bentuk kultur dan sosial dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi positif. Merton menyatakan postulat ini bertentangan dengan apa yang di temukaannya dalam kehidupan nyata. Yang jelas adalah bahwa setiap struktur, adat, gagasan, kepercayaan, dan sebagainya mempunyai fungsi positif. Contoh nasionalisme fanatik dapat menjadi sangat tidak fungsional dalam dunia yang mengembangbiakkan senjata nuklir.
  3. Potulat ketiga adalah tentang indispensability yang menyatakan bahwa dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan, ide, objek materil dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang harus dijalankan dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan sistem sebagai keseluruhan. Menurut merton, tak ada struktur dan fungsi lain manapun yang dapat bekerja sama baiknya dengan struktur dan fungsi yang kini ada dalam masyarakat.

          Merton berpendapat bahwa sasaran studi struktural fungsional antara lain adalah peranan sosial, pola institusional, proses sosial, pola kultur, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, perlengkapan untuk pengendalian sosial, dan sebagainya (Ritzer & Goodman, 2003:138). Meski Parson dan Merton dikaitkan dan fungsional struktural, namun ada perbedaan penting diantara keduanya. Di satu sisi, Parson menganjurkan penciptaan teori-teori besar dan luas cakupannya, sedangkan Merton menyukai teori yang terbatas, teori tingkat menengah.

Dalam perkembangan teori struktur fungsional, Merton mengemukakan konsep-konsep utamanya yaitu fungsi, disfungsi, fungsi laten, dan fungsi manifest. Menurut Merton di dalam (Ritzer,1992:26-27):

“Fungsi didefenisikan sebagai akibat-akibat yang dapat diamati yang menuju adaptasi atau penyesuaian dalam suatu sistem. Oleh karena fungsi itu bersifat netral secara ideologis maka Merton mengajukan pula suatu konsep yang disebut disfungsi. Sebagaimana struktur sosial atau prananta sosial dapat menyumbangkan terhadap pemeliharaan fakta-fakta sosial lainnya, sebaliknya ia juga dapat menimbulkan akibat-akibat yang bersifat negatif. Fungsi manifest adalah fungsi yang yang diharapkan (intended) sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak diharapkan.”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s